Sesaat kau hadir
Bagai seabad telah bersua
Mesra bicaramu
Membuat jiwaku teruja
Sedangkan hakikatnya
Ranting perkenalan kita
Baru sahaja menuntaskan
Pucuk daun hijaunya
Alam maya sebagai perantara
Mengeratkan ikatan kita bersama
Tanda ukhwah insan seagama
Meneguhkan akidah nikmat syurga dunia
Wahai saudari dan jua saudara
Ahlan wasahlan dariku,janganlah dilupa
Sebagai tugu ingatan pertemuan kita
Harapanku supaya kekal, keakhir usia…=>
Karya : Dr Iwan
Salam sahabat..
Kepada sesiapa yg bru shja mengenali diri ini atau telah lama..puisi ini kutujukan kpd mereka semua..semoga persahabtan kita kekal sepanjang masa...=>
Tuesday, April 28, 2009
Bermulanya perkenalan kita...
Ini Ada Satu Cerita ( Hati Mu'min Pasti Menangis) ...
Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jeneral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.
Setiap banduan penjara membongkokkan badannya rendah-rendah ketika algojo penjara itu melintasi di hadapan mereka. Kerana kalau tidak, sepatu boot keras milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. "Hai... hentikan suara jelekmu! Hentikan... !" Teriak Roberto sekeras-kerasnya sambil membelalakkan mata. Namun apa yang terjadi? Laki-laki dikamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya.
Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan marah ia menyemburkan ludahnya ke wajah seorang tua sang tahanan yang tesangat kurus dan hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyucuh wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan!. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat galak meneriakkan kata “Rabbi! wa ana abduka..”. Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustaz.!. InsyaAllah tempatmu di Syurga."
Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh sesama tahanan, algojo penjara itu bertambah memuncak marahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-kerasnya sehingga terjerebab di lantai.
"Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah hai orang tua bodoh! Bumi Sepanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan suara-suara yang seharusnya tidak didengari lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mahu minta maaf dan masuk agama kami."
Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia lalu berucap, "Sungguh...! Aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai Kekasihku yang amat kucintai,iaitu Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan kerana akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk!? Jika aku turuti kemahuanmu, tentu
aku termasuk manusia yang amat bodoh."
Sejurus sahaja kata-kata itu terhenti, sepatu keras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah buku kecil. Adolf Roberto berusaha memungutnya. Namun tangan sang Ustaz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. "Berikan buku itu, hai
si tua bangsat!" bentak Roberto.
"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!"ucap sang ustaz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustaz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Algojo bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan algojo penjara itu merasa lebih puas lagi ketika melihat titisan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur. Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya baran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh itu. Dengan tidak semena-mena, mendadak algojo itu termenung.
"Ah... seperti aku pernah mengenal buku ini. Tetapi bila? Ya, aku pernah mengenal buku ini." Suara hati Roberto tertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan aneh dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya buku yang seperti ini lagi di bumi Sepanyol.
Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.
Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi kekecohan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di ‘Inquisition Field’(lapangan tempat pembunuhan beramai-ramai kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia.
Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergantungan, berayun-ayun ditiup angin petang yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mahu memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.
Seorang kanak- kanak laki-laki comel dan tampan, berumur sekitar tujuh tahun, malam itu masih berdiri tegak di Inquisition Field yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semuanya. Kanak kanak comel itu melimpahkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang pergantungan. Perlahan-lahan kanak-kanak itu mendekati tubuh sang ibu yang tak sudah bernyawa, sambil menggayuti ayahnya. Sang anak itu berkata dengan suara parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa..? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi... "
Budak kecil itu akhirnya menangis semahu-mahunya, ketika sang ibu tak jua menjawab panggilannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus dibuat . Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya budak itu berteriak memanggil bapaknya, "Abi... Abi... Abi... " Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapa ketika teringat petang kelmarin bapanya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.
"Hei!... Siapa disana?!" jerit segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati budak tersebut. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi... " jawabnya memohon belas kasih. "Hah... siapa namamu budak, cuba ulang!?" Bentak salah seorang dari mereka. "Saya Ahmad Izzah... " dia kembali menjawab dengan agak kasar.
Tiba-tiba "Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil. "Hai budak... ! Wajahmu comel tapi namamu hodoh. Aku benci namamu.
Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik. Namamu sekarang Adolf Roberto... Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu."
Budak itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitiskan air mata.
Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar dari lapangan Inquisition. Akhirnya budak comel itu hidup bersama mereka.
Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang
melekat pada tubuh sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah tanda hitam ia berteriak histeria, "Abi... Abi... Abi... " Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan kenangan masa kecilnya. Ia masih ingat betul, bahawa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai tanda hitam pada bahagian pusat.
Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas tingkah-lakunya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tha... " Hanya sebatas kata itu yang masih terakam dalam benaknya.
Sang ustaz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyeksanya habis-habisan kini sedang memeluknya. "Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu... " Terdengar suara Roberto meminta belas.
Ustaz mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.
Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap. "Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu," Setelah selesai pesanan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah… "Asyahadu anla Illaaha ilAllah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah... . Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini. Lalu, bagaiman nasib sang algojo tersebut….?
Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya... "
Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.
Benarlah firman Allah...
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS>30:30)
Saturday, April 25, 2009
Warkah buat teman...
Teman
Izinkan disini untukku luahkan kata-kata
Bahwa dirimu sangat bermakna
Kehadiranmu membuatku bahagia
Ungkapan dari lidahmu indah-indah belaka
Indahnya saat kita masih bersama
Teman
Terima kasih kuucapkan
Tika dirimu dihadirkan
Kekosongan hatiku terisi dengan keindahan
Pencetus semangatku dalam berjuang
Dalam mengecapi setiap penjuru kejayaan
Teman
Kini dirimu dengan diriku semakin berjauhan
Maafkanlah aku duhai kekasihku
Kerna impian kita untuk bersatu
Roboh di perjalanan mengguris perasaan
Membuat kita saling merindukan
Teman
Adakah ini yang dinamakan percintaan
Indah diluar durinya di dalam
Merobek hati tika dirudum kekecewaan
Merasa tak bererti tuk teruskan kehidupan
Inilah jika tak berpaksikan Tuhan
Teman
Inilah dinamakan pengorbanan
Tak semestinya menyintai itu memiliki
Cukuplah bagiku sekadar memerhati
Kau mengecapi kebahagian tanpa diri ini
Kerna ku sntiasa menyedari
Diriku tidaklah seperti yang dikau impikan
Teman
Maafkanlah ku sekali lagi
Membuat dirimu merana sebegini
Tulus ikhlas dari hati
Bahwa ku masih mencintai
Saban hari ku masih mengingati
Kenangan kita selama ini
Masih tersemat kukuh di hati
Dan andai
Kumampu mengubah kembali
Akan kupastikan semua ini
Takkan pernah terjadi…
Karya : Dr Iwan
Salam sahabat..
Saje ak mencoret puisi ini...sekadar mainan perasaan di kala kesunyian..Jgn fkir yg bkn2 yer..he2..=>
Wednesday, April 22, 2009
Mengimbau kenangan lame...=>
Dewan JAKIM...
Pertandingan hafazan Quran..terima dr Dato Sri Hj Idris Jusoh
Camping...
Pengakap Raja...
Di Putra World Trade Center(PWTC)
Salam sahabat..
Saje nk share..best btul bler ingat2 balik aktiviti2 dulu...ni antara aktivity2 yg ak ikut n terpilih dulu..sebenarnye bnyk lg.tp x kn nk msukkn sme kn..nnti x muat la plk..he2
Ak sbnrnyer ske aktiviti2 lasak..that's y la dlu ak terpilih antara 8 org wakil trg utk ke kenyir challenge..ak plg ske pengakap.wlupun dlu org kate x yh sbuk2 ngn sme ni.tp skrg,ak dh buktikn yg mne x smestinye aktif2 x cemerlang!!alhmdulillh skrg ak dpt buktikn yg sme tu slh..dlm pengakap,ak dh berjaya mendpt anugerah tertinggi dlm pengakap yaitu 'PENGAKAP RAJA' bahkn tyme pentarafan,ak telah menjadi pentaraf terbaik!!.
Selain tu..bnyk lg aktiviti2 lain yg ak ikut..terpilih mnjd wakil terengganu dlm forum pemimpin pelajar kebangsaan di PWTC mnjd slh satu memori indah buat ak..mase kecik2,ak aktif ngn sketsa,boria n nasyid..selalu kne wat persembhn..ha2..ingt2 blik nk tegelak gk rse..plg x bleh blah,tyme ikut kejohanan senamrobik peringkat neg trg..lucu rse ak bleh terikut sme tu.ha2.
Sebenarnye klu nk crite2 sme.x ckup plk ruang ni nnti.he2..tp yg penting dicni..sme aktiviti2 ni ak btul2 rse x rugi..coz,sme ni la yg melatih sifat percaya dri n kepemimpinan yg sgt berguna smpi skrg..dlu tyme ikut prog2 kepimpinan..kdg2 boring gk.coz bkn skali tp byk kali sgt smpai la ke peringkat kebangsaan pun...Alhamdulillh ak bersyukur btul diberi pluang sme tu..rse cm smpi cni je coretanku..wassalm..=>
Sunday, April 19, 2009
Syahdunya kedengaran...
Syahdu kedengaran pabila mendengarkan
Rintihan kesedihan serta kekecewaan
Dari seorang insan bernama teman
Tika ia sedang bersendirian
Merasakan dirinya terlalu keseorangan
Menghadapai ujian dan jua dugaan
Dalam menempuh liku kehidupan
Duhai teman yang aku sayang
Janganlah dikau bersikap demikian
Yakinlah dirimu ngan janji tuhan
Percaturan hidup serta perjalanan
Tak semudah seperti yang kita bayangkan
Tak seindah seperti yang kita impikan
Kadangkala tika kita ditengah perjalanan
Tertimpa hujan yang buatkan kita kekuyupan
Menyebabkan kita merasa kedinginan
Sedarlah wahai teman
Indah sungguh kurniaan tuhan
Anggaplah ujian sebagai batu lonjatan
Membantu kita menuju kematangan
Panduan kita membuat pertimbangan
Pencetus keyakinan tentukan pilihan
Akhir kata untukmu teman
Kata-kataku sekadar masukan
Agar dirimu dikembalikan keceriaan
Menempuh hidup menuju kebahagiaan…=>
Karya : Dr Iwan
Saturday, April 18, 2009
Wahai rembulan...
Tercuri hatiku dikala waktu
Bertemankan rembulan tika siangnya berlalu
Bertebaran bintang hamparan kalbu
Syukurnya aku sujud pada Yang Satu
Bertanya aku pada rembulan
“Tidakkah engkau bersendirian?
Sunyinya dikau kulihat dikejauhan”
Jawabnya rembulan menjawab persoalan
“wahai insan penduduk alam
Aku juga ciptaan Tuhan
Takkan bisa hdup tanpa berteman
Mentari dan bintang pengubat kesunyian
Tak pernah jemu menyuluhkan sinaran”
Ditanya kembali oleh rembulan
“Bisakah kubertanya wahai jejaka
Sudah terlalu lama aku ingin meluahkannya
Kenapakah manusia sekarang begini rupa?
Bermusuhan sentiasa menghancurkan sesama?”
Syukran jazillah aku ucapkan
Atas persoalan yang rembulan lontarkan
Ikhlas dariku cuba membongkarkan
Hedonis manusia demi kehidupan
Yang takkan kekal sehingga melupakan
Akhirat mendatang mereka pinggirkan
Inilah jawaban ku cuba berikan
Jika salah kupohon kemaafan
Kerna kujuga punyai kelemahan
Buat rembulan yang membuahkan pemikiran
Kau mengajarku satu pengertian
Mengertikan aku makna persahabatan
Pentingnya kita mewujudkan ketulusan
Saling melengkapi lestarikan kehidupan
Indah sungguh kurniaan Yang Satu
Titislah air mata tergenang disejadahku
Tanda penghambaan buat Sang Penciptaku…=>
Karya : Dr Iwan
Friday, April 17, 2009
Bersatulah kite...
Salam sahabat...
X de banyak yg nk dicoretkan pd pagi ni...cme di kala heningnye tyme subuh camni..tringat lak pd zaman2 sekolah dulu..member2 yg selalu bersama n brgurau senda..x de rse iri hati or buruk prasangka..best nyer klu ingat2 balik..hrp2 blik msia nnti bleh adkan reunion lg..pdhl tiap2 thn wat reunion..he2
Tyme sek dlu best..aktif2 ngn persatuan, pergerakan n mcm2..sampai la ke pringkat kebangsaan pn dh beberapa kali dijejak.klu bleh international confrence pn nk ikut(impian).(kenakalan pun included..he2)..khdupan university skrg ni is very different..maybe we also can active in organisation or so on..but,it's very2 different.Kt U ni,everybdy try utk jinak2 ngn politik, assabiyah n so on...ini la yg mmbantutkan relation between each others..ni bkn kerna nape2..but,they dun knw how to separate between frienship with others.jgn coz of different idealogy,we throw out our friendship.tht's very nonsense for me coz sume sme agame kn..
Other thn that..now,almost of people think tht they are da most perfect.what they think are da most right things..erm..for me,nobody perfects in ths world except our Rasulullah who we already knw him as 'Maksum'..Allah also dun like people those over limit in doing something..u knw wht i mean..'fanatik-radikal'
Are they realize about all these things???.cbe kte tgk negara kte sekarang..everyody fighting each others..all da stupid things!!..org melayu dk gaduh2..sedangkan kaum lain dk ketawa di belakang..adakah ini dinamakan kebodohan melayu yg kaya dengan sopan santun n budi pekerti..jangan la kerna bawaan politik kte melayu fighting..sme islam kan..adakah ini yg diajarkan oleh islam?????
Kite muak dengan keadaan ini..ad satu pihak yg mengclaim merekalah pembawa agama..ad satu yg mengclaim mereke pembawa pembaharuan la..erm..not mean dcni sy penolak kpd politik..bukan!!!tp sy rse sgt2 rugi jika umat islam bergaduh dsbbkn oleh perkara2 yg bkn pasti cmni..sedangkan rakyat yg fanatik2 camni adlah alat mainan kpd permainan politik yg dimainkan oleh pihak2 yg berkepentingan..bukankah islam mengajar perpaduan dan juga kesatuan????kenapekah ini yang bukannye didahulukan????so,think about it!!!
I think,that's all..x nk ckp pnjang2.layan nasyid lg best sambil wat keje.he2.so,last but not least...hope friendsip never end..wassalam.=>